Advertisement

Advertisement

Kondisi Riana yang mengaku hamil 7 minggu

VIRAL BANTUAN PPKM DARURAT ATAU PENGAMANAN PPKM DARURAT TERJADI PEMUKULAN WANITA HAMIL.

omar

Saat pengamanan Bantuan PPKM Darurat atau arus PPKM Darurat pada hari Rabu tanggal 14/07 di kabupaten Goa Sulawesi Selatan terjadi peristiwa yang menghebohkan warganet yaitu terjadi kekerasan pada seorang wanita hamil yang bernama Amriana (riana) oleh anggota satpol PP.

Saat proses pemeriksaan dia mengaku bahwa dirinya hamil 7 minggu atau hamil 6 minggu karna dia tau dari mulut seorang tukang urut. Akan tetapi kepala Bidang Komunikasi Kabupaten  memastikan bahwa Amriana tidak hamil ungkap Gowa Arifuddin Zaeni. dan riana sendiri mengaku bahwa kehamilannya tidak bisa dibuktikan secara medis.

Tim medis Kabupaten Goa juga mengajak Riana untuk di USG untuk membuktikan kehamilannya tersebut apakah hamil 7 minggu atau hamil 6 minggu supaya kehamilan Riana bisa dibuktikan, akan tetapi Riana menolak untuk di USG dengan alasan kondisinya masih lemas akibat insiden pemukulan oleh anggota satpol PP.

Pihak pengacara Amriana, Ari Dumais, mengatakan hamil atau tidaknya korban tak ada hubungannya dengan aksi penganiayaan. Ari Dumais pun mengaku sempat mencari oknum dokter yang memaksanya melakukan pemeriksaan kandungan.

“Nah inilah pada saat saya ke sana (RS) juga saya mencari dia ternyata dia sudah pulang. Dan saya ketemu pihak humas (rumah sakit) sekarang ini sementara menyelidiki, benar tidak perlakuan ini kan. Itu bisa dibuktikan CCTV, ya,” kata Ari Dumais.

Kepala Bidang Komunikasi Kabupaten Gowa Arifuddin Zaeni mengaku yakin dokter tak akan melakukan intimidasi seperti yang dilaporkan. Dia menyebut dokter memiliki kode etik profesi yang menjadi pedoman saat bekerja.

“Saya percaya bahwa dokter tidak akan melakukan tindakan-tindakan seperti itu. Kenapa karena kita memahami dan mempercayai namanya kerja profesi. Kenapa karena ada kode etik yang dia pakai,” katanya.

Ketua IDI Sulsel Muhammad Ichsan Mustari mengaku dia belum bisa memberikan tanggapan atas dugaan intimidasi karena oknum dokter yang dimaksud harus jelas. Dia juga menyebut pihaknya belum menerima laporan resmi atas dugaan intimidasi tersebut.

omar

“Coba kasi datanya deh supaya saya bisa lihat dokternya siapa. Belum ada, belum ada laporan resmi, kan mesti resmi juga dong,” katanya saat dihubungi secara terpisah. sumber dari Detik.com

Kronologi kejadian

Dalam video yang beredar, pemilik warung kopi terlibat adu mulut dengan para petugas.

Seorang petugas Satpol PP meminta surat izin warung kopi tersebut kepada wanita hamil pemilik warung Bernama Riana (34).

Perdebatan berujung pada penganiayaan terhadap pria pemilik warung kopi, Nur Halim (26).

Melihat suaminya dipukul, Riana lalu melemparkan kursi ke arah petugas.

Namun, Riana justru juga menjadi korban pemukulan oleh oknum Satpol PP.

Sementara itu, pejabat Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa, Hj Kamsina membeberkan kronologi kejadiannya.

Menurutnya, saat itu tim gabungan yang melintas di Kawasan Panciro mendengar suara musik yang keras dari sebuah warung kopi.

Petugas lalu masuk dan bertemu dengan pemilik warung kopi.

Pemilik warung kopi dianggap melanggar aturan jam operasional selama PPKM.

Petugas lalu mengimbau agar warung segera ditutup.

Tak hanya itu, mereka juga diminta untuk mengecilkan suara musiknya.

Lanjut Kamsina, pemilik warung kopi memberi respon kurang baik.

“Depan kantor Desa Panciro kita berhenti dan besar sekali musik, karena ini telah masuk hari keenam pengetatan PPKM mikro di Gowa.”

“Kita sampaikan kalau bisa kecilkan musiknya atau dimatikan saja namun dia (pemilik warko) kurang baik penerimaannya,” katanya, Kamis (15/7/2021) dini hari, dikutip Tribunnews dari Tribun Timur.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *